Bukan Sekadar Takdir: Strategi Menyelamatkan Panen di Tengah Ancaman Perubahan Iklim - Warta Global Sultra

Mobile Menu

ADS

Memuat berita...

More News

logoblog

Bukan Sekadar Takdir: Strategi Menyelamatkan Panen di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Kamis, 01 Oktober 2026
 
KOLAKA TIMUR — Warta Global Sultra.Id — Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan kenyataan pahit yang langsung menyentuh sawah dan dapur masyarakat. Di Kabupaten Kolaka Timur, kekeringan ekstrem telah memukul lahan persawahan seluas 2.700 hektare, di mana 508 hektare di antaranya — terutama di Desa Bou, Kecamatan Lambandia — mengalami puso atau gagal panen total.
 
Kerugian yang ditanggung petani sungguh mencengangkan. Dengan rata-rata hasil panen 7 ton per hektare dan harga gabah di tingkat petani Rp6.500 per kilogram, kerugian diperkirakan menembus Rp168 miliar. Angka itu belum mencakup biaya pengolahan lahan sebesar Rp5–6 juta per hektare. Dana yang seharusnya mengalir untuk kebutuhan hidup, pendidikan anak, dan masa depan keluarga petani, seketika lenyap begitu saja.
 
Menghadapi kenyataan ini, Suprianto, S.T., M.T., Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Kolaka Timur dari Fraksi Partai Gerindra, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berhenti memandang kegagalan panen sebagai takdir yang tak terelakkan.
 
"Kekeringan dan kegagalan panen di Kolaka Timur seharusnya menjadi lonceng peringatan bagi kita semua. Perubahan iklim memang nyata, tetapi dampaknya bukanlah takdir yang tidak bisa dihindari."
 
"Ketahanan pangan masa depan tidak ditentukan oleh kepasrahan menghadapi cuaca, melainkan oleh tindakan kolektif yang kita ambil hari ini," tegasnya.
 
Selama ini, kemarau panjang maupun hujan tak menentu kerap dipandang sekadar cobaan alam yang harus diterima apa adanya. Padahal, sikap pasrah hanya akan memperpanjang rantai kerugian dan mempertaruhkan ketahanan pangan daerah. Kalender tanam turun-temurun kini tak lagi bisa diandalkan — pola iklim telah berubah, dan cara bertani pun wajib berubah mengikutinya.
 
Langkah Nyata Menyelamatkan Pertanian
 
Suprianto menegaskan, mengandalkan keberuntungan cuaca bukan lagi pilihan. Diperlukan strategi adaptasi dan mitigasi yang terencana dan menyentuh langsung ke lahan petani:
 
- Pengelolaan Air & Infrastruktur Darurat — Membangun sumur bor, menyediakan pompa air, tandon, serta embung penampung air hujan di kawasan sentra produksi pangan, agar irigasi tetap terjaga saat kemarau tiba.
​
- Benih Unggul & Diversifikasi — Mendorong penggunaan varietas padi tahan kekeringan yang berumur panen lebih pendek, serta mengembangkan tanaman alternatif yang lebih tangguh terhadap perubahan cuaca.
​
- Pemanfaatan Data Iklim — Mengintegrasikan informasi cuaca dari instansi terkait ke dalam penyuluhan, sehingga petani dapat menentukan waktu tanam secara tepat dan terhindar dari kerugian akibat musim yang tak menentu.
 
Tanggung Jawab Semua Pihak
 
Masalah ini tidak bisa dibebankan kepada petani sendirian. Diperlukan sinergi lintas sektor: Pemerintah Daerah, BPBD, dan Dinas Pertanian harus bergerak cepat memetakan wilayah terdampak, menyalurkan bantuan, serta merancang infrastruktur jangka panjang. Penyuluhan pertanian adaptif harus sampai ke setiap desa. Sementara itu, asuransi pertanian wajib diperkuat agar petani memiliki jaring pengaman saat panen gagal dan tetap bisa memulai usaha tani kembali.
 
Perubahan iklim memang tak bisa dihentikan seketika, tetapi dampaknya bisa dikurangi — bukan dengan kepasrahan, melainkan dengan kerja nyata bersama.
 
Laporan: Andi Arka — Redaksi Warta Global Sultra
Memuat konten...