JAKARTA – Warta Global Sultra. Id || Gelombang pelaporan terhadap mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), terkait pernyataannya mengenai istilah "Mati Sahid" memicu reaksi dari berbagai pihak. Menanggapi polemik tersebut, Kusnadi TS,yang akrab di sapa Daeng Ketua Divisi Humas & Kerjasama Laskar Hukum Indonesia (LHI), mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menghakimi dan tetap melihat konteks utuh dari pernyataan tersebut.
Pernyataan JK sebelumnya dilaporkan oleh sejumlah organisasi, termasuk DPP GAMKI, Majelis Umat Kristen Indonesia, dan Asosiasi Pendeta Indonesia ke pihak kepolisian. Laporan tersebut didasari anggapan bahwa pernyataan JK menyinggung ajaran agama tertentu.
Melihat Rekam Jejak dan Pengalaman Perdamaian
Dalam keterangannya pada Selasa (14/4/2026), Daeng menegaskan bahwa pelaporan tersebut tidak seharusnya dijadikan alat untuk menyerang pribadi Jusuf Kalla. Ia mengingatkan kembali jasa besar JK dalam menjaga keutuhan NKRI, terutama perannya sebagai mediator perdamaian.
"Kita harus ingat jasa beliau bagi bangsa. Melalui Perundingan Malino I dan II, Pak JK berhasil memediasi konflik horizontal di Poso dan Ambon pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an," ujar Daeng.
Menurutnya, apa yang disampaikan JK bukanlah sekadar pernyataan normatif, melainkan sebuah refleksi dari pengalaman panjang beliau di lapangan saat meredam konflik.
Waspadai Potongan Video di Media Sosial
Daeng menilai polemik ini kian meruncing akibat potongan video yang beredar di media sosial yang seringkali tidak mencerminkan pesan secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa dalam situasi sensitif yang menyangkut isu agama, kedewasaan publik adalah kunci.
"Pak JK menyampaikan lesson learned. Itu adalah pendekatan yang beliau gunakan untuk mengubah paradigma pihak yang bertikai agar tidak lagi termotivasi oleh semangat kekerasan," jelasnya
lebih lanjut, Seruan untuk Dialog dan Persatuan
Menutup pernyataannya, Daeng mengimbau semua pihak untuk mengedepankan dialog dan klarifikasi daripada memperuncing perbedaan tafsir. Ia berharap perbedaan pandangan hari ini tidak sampai membuka luka lama dari konflik besar yang pernah dilewati bangsa ini.
"Bangsa ini pernah melewati konflik besar, dan kita belajar dari sana. Jangan sampai perbedaan tafsir hari ini justru membuka luka lama," pungkasnya.
Tim Redaksi..
KALI DIBACA
